Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan

16 Maret 2011

Hasilkan Fellow IEEE - Dana Penelitian Universitas dan Institusi Negara Jangan pernah bilang "saya sudah cukup berkarya"

From: Arnold Djiwatampu

Ya betul, komentar anda di bawah ini benar.

Ada banyak instansi termasuk Universitas di Luar Negeri yang bekerjasama dengan IEEE untuk memperoleh (Digital) Library yang terbesar dan terlengkap di dunia, dengan memperoleh harga potongan yang besar. IEEE memiliki dokumen2 dan buku2 para periset dunia yang tidak ada tandingannya.
IEEE mempunyai cabang atau Section di seluruh dunia, bahkan di Cina, Jepang, Eropa Barat dan Rusia sekalipun.

Sayangnya kebijakan liberalisasi yang salah dari Indonesia, menyebabkan Universitas dan sekolah2 harus mencari dananya sendiri, malah mengarah diswastakan. Ini suatu liberalisasi yang keblinger dan tidak pada tempatnya mengikuti penswastaan perusahaan dan usaha pemerintah.

Di negara maju malah pendidikan disubsidi berat mulai dari SD hingga Universitas.
Di AS, yang memberikan subsidi adalah pemerintah Negara Bagiannya.

Bagaimana Universitas bisa unggul dalam riset bila tidak disubsidi pemerintah pusat atau provinsi, dan hanya bergantung pada kerjasama dengan instansi dan perusahaan swasta (kebanyakan asing). Sudah jelas bila kerjasama dengan perusahaan asing seperti Microsoft dsb, akan lebih mementingkan promosi dan produk perusahaan tersebut. Demikian juga kerjasama dengan lembaga pendidikan asing. Sementara dukungan dana dari institusi keuangan baik itu Bank Dunia, ADB, Ford Foundation, Eropa dsb, tentunya sangat terbatas dan ada kepentingan pemilik di belakangnya.

Tidak mungkin kita akan memperoleh hasil riset yang benar-benar sesuai kepentingan nasional dan atau sesuai inovasi asli dari para pakar kita. Padahal pakar-pakar kita dari bumi asli Indonesia banyak yang hebat-hebat dan tidak kalah dengan pakar asing.
Salah satu contohnya kalau mau tahu adalah seorang Indonesia, Prof. Dr.Susanto Rahardja, dari Institute for Infocomm Research, Singapura, http://www.raharja.ac.id/susanto/
Dia meraih tingkat keanggotaan Fellow IEEE oleh karena peluang karier dan penelitiannya yang diberikan Institut ini untuk maju. Peluang tersebut tidak disia-siakan sehingga karya-karyanya melanglang-buana.

Bila Universitas tidak diberi subsidi, bukan hanya untuk biaya mahasiswa (masa depan ahli dan Pemimpin Bangsa), khususnya yang tidak mampu ke LN, tetapi juga untuk riset sebagai tumpuan kemajuan Bangsa masa depan, bagaimana akhli-akhli, Doktor-doktor serta Profesor-profesor kita bisa maju dan membumi? Hasil-hasil riset ini yang akan menjadi dasar pijak pengakuan dunia terhadap pakar, yang disebarkan lewat berbagai majalah riset dan teknologi dunia, seperti majalah2 IEEE, dsb. Dan berdasarkan itu pula maka rekan2 sekerjanya sesama anggota IEEE akan dapat mengusulkan dia meraih peringkat keanggotaan IEEE tertinggi, Fellow.

Mengamati Newsletter IEEE Region 10 (Asia Pasifik), diumumkan para Fellow IEEE 2011 yang baru, nampak kebanyakan dari Universitas, selain dari industri besar negara maju termasuk Singapura.
Coba untuk tahun 2011 yang memperoleh Fellow (bukan jumlah seluruhnya dari tahun2 sebelumnya) adalah dari India (Bengalore 1, Bombay 1, Madras 1. Total 3), China (Beijing 3, Wuhan 1, Total 4); Hongkong (9=sembilan), Japan (Kansai: 1, Sendai 2; Tokyo 11=sebelas, Total 14); Australia (NewSouthWales: 3); NZ (1); Korea (Seoul 6); Singapura (3 orang, termasuk Dr.Susanto Rahardja), Taiwan (10=sepuluh).
Dan sampai kini Indonesia belum memiliki seorang Fellow. Bagaiman dia bisa berprestasi dalam penelitian dan penemuan teknologi bagi umat manusia, kalau tidak ada dana atau tidak ada yang mendukung di dalam negeri?

Nampaknya Indonesia masih sibuk mengurusi soal mengisi perut. Apa betul?
Bukankah ada cukup banyak dana untuk pendidikan, dan mestinya R&D juga merupakan bagian dari pendukung pendidikan di Universitas. Kapan lagi kalau tidak sekarang mengadakan penelitian dengan dana sendiri di Universitas.

You get what you pay. Bukankah berlaku hukum, bila memancing dengan umpan kecil maka dapat ikan kecil, dan memancing dengan umpan besar akan dapat ikan besar?
Kalau seperti sekarang malah tanpa umpan mau dapat ikan. Sulap namanya.

[Atau seperti zaman Orba, penelitiannya ndak kepalang tanggung, langsung untuk kapal terbang, bahkan katanya setiap orang Indonesia cuma harus menyumbang $10 untuk menyelesaikan penelitian dan produksi Nxxxx. Sementara untuk yang ada di depan mata seperti pertanian dan perikanan yang langsung dinikmati rakyat banyak malah diterlantarkan. Ya, ya, kita sering suka langsung hasil segera (instant), ndak mau lama-lama berpayah-payah dikit demi sedikit berpeluh seperti orang Jepang. Akibatnya seperti pengeboran a la Lapindo yang korban dan akibatnya masih berserakan dan ada ibu yang meninggal. Pemilik melepaskan tanggung jawab dan memperjuangkannya sebagai bencana nasioinal, agar ditanggung negara. Dan kalau ada hasil yang bagus langsung berebut nama. Contoh, pertandingan sepak bola yang tinggal memetik kemenangan akhirnya menderita kekalahan, karena kelelahan beraudiensi dan jengkel.]

Kita terus berharap bahwa pemerintah mau bertobat dan mengubah kebijakannya, sehingga Universitas menjadi tempat penggelembengan pakar-pakar teknologi berskala internasional dan pimpinan negara yang membumi bagi Ibu Pertiwi di mana dia dibesarkan, dan bukan terpaksa atau dipaksa hijrah ke dan menguntungkan negara lain.

Kembali lagi untuk peluang dan pentingnya keanggotaan IEEE ini.
Dengan adanya IEEE Indonesia Section kita saling dukung antar-anggota, maka informasi rinci tentang pakar asal Indonesia seperti di atas yang saya lemparkan ke milis, ditambah rincian oleh rekan Arief Hamdani (Vice Chair, asal Telkom), dan rekan Suryadi Liawatimena (Newsletter, dari BINUS) memasukkannya dalam Facebook. Berbagai ulasan sebelumnya didukung oleh pengetahuan yang ditimba dari IEEE.

Dari IEEE kita juga belajar berorganisasi yang tertib, kegiatan dan pelaporan dikontrol dan bahkan diberi insentif keberhasilan, memberikan bantuan untuk penemuan oleh anggota biasa maupun mahasiswa, bantuan untuk kegiatan khusus seperti wanita seperti WIE (Women in Engineering), sementara pelaporan keuangan dikontrol dengan ketat.

Jangan pernah mengatakan "saya sudah tua" atau "sudah cukup sekian (berkarya)", melainkan bertanya terus "apa yang bisa saya lakukan, prestasikan"
[Tahun 2004, setelah pensiun 9 tahun, sambil terus berusaha, saya menambah di luar bisang profesi saya tetapi perting untuk bisnis profesi, yaitu ikut suatu pelatihan akhir pekan "Marketing Strategy" di LA dari seorang ahli pemasaran kelas dunia, Jay Abraham, yang hingga kini saya praktekkan dan tularkan.
Nah, ketika tahun 2008, saya dg isteri dan anak perempuan dan temannya, ikut pelatihan akhir pekan di Jakarta "Pattern of Excellence" dari Adam Khoe, ada contoh yang menantang seorang pebisnis yang bangkrut pada umur 72 tahun, namun dia pantang putus asa dan bangkit kembali sehingga pada pada umur 82 tahun dia berhasil meraih kembali kekayaan dan kejayaannya. Memang kalau kita mau, bisa menjadi luar biasa.]

Salam,
APhD

03 Maret 2011

apa itu Corporate Inertia?

SAYA AGAK ragu-ragu menulis tentang ini, karena sebenarnya istilah “corporate inertia” ini diambil dari istilah Bapak Yuswohady dan saya mencoba menjabarkan istilah ini dengan sudut pandang saya. Niat menulis ini karena saya mendapat BBM dari seorang teman yang bekerja disebuah perusahaan terkenal di Indonesia. Beliau bertanya tentang corporate inertia, setelah saya jelaskan tentang itu beliau terus bicara kepada saya bahwa perusahaannya sedang mengalami itu (Dalam hati saya: sudah saya duga). Mari coba kita mencoba mencari sumber dan mencoba mencari solusi untuk perusahaan itu.
Corporate Inertia itu apa? Yaitu terkungkung pada bisnis model yang telah membuatnya berjaya.
Ya, perusahaan terkenal itu sudah terjangkiti penyakit ini, penjualan menurun, banyak karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan dan kondisi perusahaan yang tidak kondusif.
Sumber masalah itu kalau pengamatan saya adalah sbb:
1. Distribusi produk yang tidak merata. Hal ini disebabkan karena personal-personal (karyawan) yang ada di perusahaan ini kurang termotivasi, sehingga mereka malas dalam mendistribusikan produk dan memasarkan produknya. Akibatnya, banyak channel yang terisi oleh produk-produk lain (baca: kompetitor)
2.Pasar yang sudah berubah. Di era web.2.0 ini, konsumen sudah semakin cerdas, mereka lebih bisa memilih produk yang mana disukai dan dibutuhkan oleh mereka. Tidak bisa dipungkiri di media internet, kita seperti melihat pameran produk secara massal yang tiap detik tampil di depan mata kita. Hal ini membuat potensi untuk brand switching sangat mudah terjadi.
3. Kurangnya SDM yang andal di masing-masing posisi vital. Di perusahaan ini untuk pos – pos vital khususnya di departemen penjualan masih diisi oleh orang-orang yang berpikiran kuno dan kolot. Di sebuah perusahaan berskala nasional, seorang area manager tidak mahir dalam mengoperasikan perangkat komputer (Microsoft Office), ini hal yang mencengangkan buat saya. Jadi, menurut saya perombakan kualitas karyawan juga perlu dilakukan di sini.
4. Managemen yang masih menganut pola Legacy. Perusahaan ini masih mengedepankan pola-pola dan strategi marketing kuno, secara struktural memang sudah menggunakan elemen baru dalam struktur organisasinya tapi cara menggunakannya masih dengan cara kuno.
Langkah-Langkah penanggulangannya:
1. Menguatkan komunikasi antarkaryawan. Caranya, misalnya, dengan membangun divisi khusus, yaitu Internal Marketing. Dengan adanya internal marketing, komunikasi antardivisi diharapkan berjalan dengan baik dan timbulah kompetisi yang sehat antardepartemen. Dan, dengan program-program, Internal Marketing dapat memotivasi setiap karyawan untuk loyal terhadap perusahaan, apabila terjadi krisis dalam sebuah perusahaan itu. Jadi dengan Internal Marketing ini karyawan akan termotivasi dalam bekerja dan ini akan memberikan dampak karyawan di masing-masing lini bekerja dengan antusias sehingga diharapkan dapat mengatasi distribusi produk yang tidak merata dan selalu belajar untuk dapat mengikuti pasar yang dinamis perubahannya.
2. Membentuk sebuah manajemen yang terintegrasi dengan pola-pola baru web 2.0, yaitu komunikasi antarkaryawan secara horisontal karena pada dasarnya perusahaan yang terkena penyakit “Corporate Inertia” ini adalah perusahaan yang berusia cukup lama, sehingga ada 2 generasi yang berada dalam managemen itu, sehingga saya jamin akan sering terjadi “war in the board room” di mana kaum muda akan terus berbeda pendapat dengan generasi tua. Seperti kata bung Karno “1.000 manusia tua tidak dapat mengubah dunia, tapi 1 anak muda dapat mengubah negara ini” sehingga kesimpulannya bahwa sifat untuk selalu dihormati orang-orang tua dalam sebuah organisasi atau manajemen itu harus dihilangkan. Agar kaum muda juga dapat didengar pendapatnya.
Nah, itu beberapa langkah pertama untuk menanggulangi masalah yang terjadi dalam perusahaan teman saya, mungkin banyak cara atau model lain dalam penanggulangannya. Saya sangat terbuka untuk menerima saran, kritik yang dapat disampaikan dalam kotak komentar ini…
Tidak ada yang ASLI tanpa ada yang PALSU

*Ilustrasi dari http://www.cyber-swift.com

15 September 2008

Seikat kembang

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, "Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu. Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, "Saya Ny. Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya." "O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu. "Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar. "Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu. Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan. "Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny. Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal. Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia. Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

10 September 2008

Ahimsa

Kata ahimsa terdapat dalam buku-buku suci agama Hindu klasik Upanishad, Yoga Sutra dan Bhagavad Gita. Secara harfiah kata Sanskrit itu berarti ketiadaan gangguan, ketiadaan serangan atau ketiadaan kejahatan. Ahimsa adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari segala perbuatan yang menyakiti siapa pun atau merusak apa pun. Ahimsa adalah nazar asketis bagi orang yang mencari kebenaran dan kekudusan. Setelah sekian abad kata ahimsa dipakai secara terbatas di kalangan agama Hindu, mendadak pada 1920-an kata itu mencuat menjadi populer ke seluruh dunia.

Yang memperkenalkan kata itu adalah Mahatma Gandhi. Kata itu diterjemahkan menjadi nonviolence atau nirkekerasan. Apakah pemahaman Gandhi tentang ahimsa? Gandhi mengambil alih arti klasiknya lalu ia menambah dengan dimensi-dimensi baru. Dalam karangannya di Harijan ia menulis, Ahimsa means love in the sense of Saint Paul, and much more. Artinya: Ahimsa berarti kasih menurut pengertian Rasul Paulus, dan banyak arti lainnya.

Pemikiran Gandhi itu berdampak bukan sekadar terhadap etimologi kata ahimsa, melainkan terhadap filsafat yang berada di baliknya. Gandhi memberikan dimensi pada konsep ahimsa, dari konsep "janganlah kita menyakiti orang lain" menjadi konsep "hendaklah kita mengasihi orang lain". Kalimat negatif diubah menjadi kalimat positif. Gandhi memberikan dimensi ajaran Kristus pada konsep ahimsa tanpa meninggalkan substansinya yang terdapat dalam ajaran Hindu. Itu bukan berarti bahwa Gandhi menyamakan konsep ahimsa menurut agama Hindu dengan konsep kasih menurut agama Kristen. Yang diperbuat Gandhi adalah memperluas arti ahimsa. Gandhi yang menganut agama Hindu memang mempelajari dan menyukai Alkitab Perjanjian Baru, terutama Kitab-kitab Injil dan Surat-surat Paulus.