Tsunami yang terjadi di Jepang bukan hanya memperlihatkan kekuatan alam, tetapi memberikan contoh kepada dunia bahwa budaya Jepang (baca: budaya tertib) tak lekang oleh kemajuan yang dicapai Negara Jepang. Alangkah indahnya kalau hal tersebut masih ada di Negara kita, Indonesia.
Anak yang Memberi Contoh Cara Berkorban
Catatan editor:
Surat ini ditulis oleh seorang imigran asal Vietnam, Ha Minh Thanh, yang bekerja sebagai polisi di Fukushima, ditujukan kepada seorang temannya di Vietnam. Surat ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Andrew Lam, editor NAM, dan dimuat dalam harian New America Media tanggal 19 Maret 2011. Versi bahasa Inggrisnya sudah diringkas.
Teman,
Bagaimana keadaanmu dan keluargamu? Saat ini aku berada di Fukushima, sekitar 25 kilometer dari pembangkit listrik nuklir. Beberapa hari ini, di sini segala sesuatu kacau sekali. Kalau aku memejamkan mata, masih terbayang jenazah korban tsunami. Kalau aku membuka mata, aku melihat jenazah juga.
Di sini kami masing-masing harus bekerja 20 jam sehari, tapi aku berharap sehari ada 48 jam, sehingga kami dapat terus membantu dan menyelamatkan penduduk.
Kami hidup tanpa air PAM dan aliran listrik, dan persediaan makanan sudah amat menipis. Kami masih menunggu instruksi ke mana harus memindahkan para pengungsi.
Masyarakat di sini tetap tenang — tingkah laku mereka amat baik dan mereka masih tetap menjunjung tinggi etiket hidup bermasyarakat — sehingga keadaan tidak seburuk yang dapat terjadi. Namun kalau keadaan seperti ini berkepanjangan, aku tidak tahu apakah kami masih bisa memberikan perlindungan dan menjaga ketertiban.
Bagaimanapun juga mereka juga manusia, dan kalau rasa lapar dan haus mengalahkan akal sehat, mereka dapat saja melakukan apa pun yang harus mereka lakukan. Pemerintah sudah mencoba memberikan bantuan makanan dan obat lewat jalur udara, tetapi kebutuhan di sini jauh lebih besar.
Teman, aku mengalami peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Seorang anak laki-laki Jepang mengajarkan cara bertingkah laku selayaknya anggota masyarakat kepada orang dewasa seperti aku ini.
Kemarin malam, aku mendapat tugas membantu organisasi amal membagikan makanan kepada para pengungsi di sebuah sekolah. Antrian pengungsi panjang sekali, seperti seekor ular. Aku melihat seorang anak kecil berumur sekitar 9 tahun, dia mengenakan kaos dan celana pendek. Udara terasa amat dingin dan anak ini berada di ujung barisan. Aku merasa khawatir saat gilirannya tiba nanti, makanan sudah habis. Jadi aku mengajaknya berbicara.
Dia berada di sekolah ketika gempa menerpa. Ayahnya bekerja tidak jauh dari sekolah dan segera naik mobil ke sekola untuk menjemputnya. Anak ini berada di balkon di lantai 3 dan dia menyaksikan bagaimana tsunami menggulung mobil ayahnya dan mencampakkannya. Rumahnya berada di tepi pantai, jadi kemungkinan ibu dan adik perempuannya juga menjadi korban bencana ini. Dia memalingkan mukanya dan menghapus air mata ketika aku menanyakan mengenai sanak familinya.
Anak ini menggigil, jadi aku melepaskan jaket polisiku dan mengenakan padanya. Saat itu kantong makanan yang menjadi bagianku terjatuh. Aku mengambilnya dan memberikan kantong itu kepadanya. “Kalau tiba giliranmu nanti, mungkin jatah makanan sudah habis. Ini bagianku. Aku sudah makan. Makanlah, kamu tentu lapar.”
Anak ini menerima kantong itu dan membungkuk menyatakan terima kasih. Aku kira dia akan segera memakannya, tetapi tidak. Dia berjalan ke depan sambil membawa kantong itu dan meletakkannya di tumpukan makanan yang sedang dibagikan.
Aku terkejut dan bertanya mengapa dia tidak makan dan mengembalikan ke tumpukan makanan di sana. Dia menjawab, “Karena aku melihat banyak orang yang lebih lapar dari aku. Bila aku mengembalikan ke sana, panita akan membagikan makanan itu dengan merata.” Mendengar jawaban itu aku menoleh agar orang-orang di sekitarku tidak melihat aku menangis.
Masyarakat yang dapat membina anak berumur 9 tahun sehingga memahami dan mempraktikkan konsep berkorban untuk kebaikan yang lebih besar pastilah masyarakat yang hebat, orang-orang yang hebat.
Salam untukmu dan keluargamu. Aku sudah harus bertugas lagi.
Salam,
Ha Minh Thanh
Japanese boy teaches lesson in sacrifice
Created: 2011-3-24 0:17:31
kumpulan tulisan dari teman-teman dari beberapa mailingslist. bermanfaat atau saat yang tepat adalah harapan.
Tampilkan postingan dengan label ahimsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ahimsa. Tampilkan semua postingan
16 April 2011
22 Maret 2011
Mengenang 104 Tahun Mr Amir Sjarifuddin Sang Pembaru (27 April 1907)
Oleh Jones Batara Manurung
Tidak banyak referensi dapat dijadikan rujukan untuk menelusuri jejak Amir Sjarifuddin. Tentang langkanya referensi itu, Pendeta Frederiek Djara Wellem dalam tesisnya, Mr Amir Syarifuddin tempatnya dalam kekristenan dan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia (STT Jakarta, 1982), mengungkapkan, "dalam karya-karya sejarah Indonesia, nama Amir Syarifuddin tidak banyak disebut. Agaknya tokoh ini dan perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia agak disembunyikan, barangkali karena berhubungan erat dengan 'pemberontakan' PKI di Madiun 18 September 1948". Tesis Pendeta Frederiek itu pada 1984 pernah diterbitkan Pustaka Sinar Harapan, namun terpaksa dihancurkan karena dilarang pemerintah saat itu. Hal serupa juga pernah dialami Majalah Prisma tahun 1982 ketika menerbitkan ringkasan biografi Amir pada hari ulang tahun ke-75.
Buku Amir Sjarifuddin antara Negara dan Revolusi, ditulis Jacques Lecrec (diterbitkan pertama kali oleh Monash Papers onSoutheast, 1993), merupakan buku yang cukup bagus, setidaknya menjadi pelepas dahaga bagi mereka yang membutuhkan informasi tentang Amir. Terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Jaringan Kerja Budaya, Jakarta, 1996. Kelemahannya sebagaimana yang diungkapkan penerbit, buku tersebut lebih tepat disebut sebagai renungan tentang Amir ketimbang tulisan ilmiah yang menyajikan fakta dan interpretasi dalam langgam yang ketat. Dari beberapa referensi itulah penulis coba memotret Amir plus dari sejarah GMKI yang juga sangat terbatas merekam jejak Amir, ia memang tercatat sebagai aktivis CSV op Java (cikal bakal GMKI).
Amir Sjarifuddin memang tidak seperti Bung Karno atau Bung Hatta yang banyak meninggalkan tulisan. Beberapa tulisan pendek pernah ditulis Amir. Antara lain, pertama "Pemberontakan di Spanyol dan Hukum Internasional" dimuat di nomor perdana berkala bulanan Ilmoe dan Masjarakat. Kedua, "Adaptasi Kata-kata Asing dan Konsep-konsep ke Dalam Bahasa Indonesia", makalah yang disampaikan pada Kongres Bahasa Indonesia di Solo pada Juni 1938. Ketiga, "Adat dan Pergerakan", makalah yang disampaikan pada Kongres Rakyat Indonesia pada Desember 1939. Keempat, pada Natal tahun 1942 Badan Persiapan Persatuan Kaum Kristen di Kebun Binatang (sekarang Taman Ismail Marzuki), Amir menulis "Menuju ke Jemaat Indonesia Asli". Praktis memang kita sangat kesulitan memahami pemikiran-pemikiran Amir secara utuh oleh minimnya referensi. Di masa mendatang kondisi itu mudah-mudahan saja menjadi daya tarik tersendiri untuk meneliti dan mengungkap tentang Amir lebih jauh. Harapan ini dapat terwujud bila provokasi picik dan pandangan keliru tentang pemimpin Partai Sosialis yang radikal seperti Amir tidak semakin mewabah.
Konsistensi Nonkooperatif Amir yang terlahir pada 27 April 1907 (pada tesis Pdt Frederiek disebut 27 Mei 1907), merupakan sosok yang secara total membaktikan hidupnya sepanjang 20 tahun (1928-1948) kepada suatu keyakinan bahwa revolusi nasional harus menohok pada sistem imperialisme itu sendiri. Hal itu tampak saat perjuangan melawan kolonialisme Belanda, tak ada kata kompromi dalam bentuk apa pun bagi Amir untuk negara penjajah. Ketika Jepang yang disambut antusias sebagai saudara tua oleh rakyat Indonesia, termasuk Bung Karno dan Hatta, langkah Amir justru sulit diduga banyak kalangan. Amir memanfaatkan Belanda untuk membangun gerakan bawah tanah menghancurkan fasisme Jepang. Bila ditelusuri, dalam hal ini Amir mendasarkan pada teori mengenai analisis terhadap krisis hubungan internasional, dan sistem politik global serta mengenai hubungan antara negeri jajahan dan penjajah yang merupakan bagian integral darinya. Gagasan Amir tidak mendapat sambutan dari sesama aktivis, sebab belum pulihnya kepercayaan mereka terhadap Amir oleh polemik di tahun 1940. Hal paling utama sebenarnya ialah tidak pahamnya mereka akan strategi Amir untuk kemerdekaan sepenuhnya. Kecenderungan saat itu, para aktivis menjalankan strategi berkolaborasi dengan Jepang dengan harapan Jepang memberi kemerdekaan. Sejarah membuktikan prinsip Amir benar, sebab ternyata Jepang menjadi penjajah yang lebih kejam, bukan sebagai saudara tua yang melindungi apalagi memerdekakan.
Nonkooperatif merupakan sikap teguh Amir, berhadap-hadapan dengan problem pokok, itulah yang ditunjukkannya kepada semua pihak. Pada konteks terkini, tidak banyak berpandangan demikian, meski tata kelola Indonesia yang hampir sempurna kehancurannya, pemerintah justru masih sibuk dengan kebijakan-kebijakan "pemadam kebakaran". Bila Amir masih hidup, dengan alat analisisnya mungkin masih dapat menunjukkan problem pokok dan solusinya dengan tepat terhadap sistem penjajahan baru yang merangsek dewasa ini. Sikap nonkooperatif mengalami kebuntuan tatkala Amir berada dalam panggung kekuasaan. Pada situasi yang bergerak cepat, sangat sulit menemukan cara yang bisa mempertemukan antara negara dan revolusi, antara stabilitas dan perubahan, dan antara yang lama dan yang baru. Gambaran itu dapat disepadankan dengan pengalaman kepemimpinan Gus Dur pascareformasi yang kesulitan melakukan perubahan.
Dalam menyusun tentara nasional, Amir terinspirasi dengan "tentara masyarakat" pada pengalaman revolusi Prancis. Segala daya upaya dilakukan Amir untuk memberikan gambaran tentang tentara yang jiwa politiknya "kerakyatan", membuang paham korporatisme, patronase, dan faksionalisme. Namun hal itu mendapat banyak kritikan, akhirnya tidak dapat berkembang sebagai jiwa tentara Indonesia. Bersamaan dengan perjalanan waktu justru ide "dwifungsi" yang telah meresapinya, dan mengangkatnya menjadi golongan "supra-masyarakat". Dinamika itu pula yang menjatuhkan kepemimpinan Amir sebagai Perdana Menteri. Namun lagi-lagi sejarah membuktikan kekalahan dan kesendirian Amir hanya pada saat itu saja, sebab puluhan tahun setelah itu (Reformasi 1998) gemuruh suara rakyat mengumandangkan "tolak dwifungsi", sebagai buah dari konsistensi nonkooperatif.
Pembaru Spiritualitas Perjalanan Amir Sjarifuddin yang dinamik ternyata tidak pada kehidupan politiknya saja. Pengalaman spritualitas Amir juga cukup mengesankan. Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan Islam yang taat, Amir lagi-lagi kontroversial dengan spritualitas baru bagi dirinya. Dia dibaptis di gereja HKBP Kernolong pada 1931oleh Pdt Peter Tambunan. Perkenalan terhadap kekristenan setidaknya dipengaruhi beberapa hal. Pertama, kakek Amir, Soetan Goenoeng Toea adalah penganut Kristen taat. Kedua, saat menempuh pendidikan di Belanda bersama sepupunya Sutan Gunung Mulia ia tinggal bersama penganut Calvinis taat. Ketiga, kedekatannya dengan mahagurunya ketika belajar di Tanah Air. Sudah pasti sangat sulit bagi keluarga dan relasinya memahami pilihan itu. Terlebih masyarakat Indonesia yang belum mampu melihat persoalan seperti itu dengan jernih, bahwa pilihan tersebut merupakan hal personal-transenden.
Tidak ada yang berubah dalam paradigma perlawanan Amir dengan status barunya sebagai Kristen. Justru kemajuan pemikirannya dapat menerobos kebekuan di kalangan Kristen saat itu. Sumbangan signifikan dalam perkembangan kekristenan, antara lain dalam tulisan "menuju ke jemaat yang asli" suatu teologi kontekstual dan merupakan ciri khas pemikiran Amir yang menunjukkan kesetiannya pada perlawanan terhadap penjajahan. Pada berbagai kesempatan Amir menyatakan, "seorang Kristen yang baik dapatlah juga sekaligus menjadi seorang nasionalis yang baik", hal ini suatu petunjuk tentang sintesa keagamaan dan kebangsaan Amir yang utuh. Begitulah Amir, setia dalam spiritualitas perjuangannya melawan penjajahan dengan strategi-taktik yang variatif. Hingga akhir hayat ketika maut datang melalui peluru bangsanya sendiri, ia tetap setia mengumandangkan lagu perjuangan semangat internasional dan Indonesia Raya dengan Injil di tangannya. Sesuatu yang membuktikan kesetiaannya pada prinsip bahwa relasi penjajahan dapat dibedah oleh spirit internasional itu, yang membumi dalam spirit antiimperialisme dan antikolonialisme sebagai wujud nasionalisme. Terpenting dari itu, prinsip tersebut secara utuh termanifestasi pada Injil yang tetap ia pegang erat pada akhir hayat.
Penulis adalah mantan pengurus pusat GMKI
sumber:www.suarapembaruan.com
Tidak banyak referensi dapat dijadikan rujukan untuk menelusuri jejak Amir Sjarifuddin. Tentang langkanya referensi itu, Pendeta Frederiek Djara Wellem dalam tesisnya, Mr Amir Syarifuddin tempatnya dalam kekristenan dan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia (STT Jakarta, 1982), mengungkapkan, "dalam karya-karya sejarah Indonesia, nama Amir Syarifuddin tidak banyak disebut. Agaknya tokoh ini dan perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia agak disembunyikan, barangkali karena berhubungan erat dengan 'pemberontakan' PKI di Madiun 18 September 1948". Tesis Pendeta Frederiek itu pada 1984 pernah diterbitkan Pustaka Sinar Harapan, namun terpaksa dihancurkan karena dilarang pemerintah saat itu. Hal serupa juga pernah dialami Majalah Prisma tahun 1982 ketika menerbitkan ringkasan biografi Amir pada hari ulang tahun ke-75.
Buku Amir Sjarifuddin antara Negara dan Revolusi, ditulis Jacques Lecrec (diterbitkan pertama kali oleh Monash Papers onSoutheast, 1993), merupakan buku yang cukup bagus, setidaknya menjadi pelepas dahaga bagi mereka yang membutuhkan informasi tentang Amir. Terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Jaringan Kerja Budaya, Jakarta, 1996. Kelemahannya sebagaimana yang diungkapkan penerbit, buku tersebut lebih tepat disebut sebagai renungan tentang Amir ketimbang tulisan ilmiah yang menyajikan fakta dan interpretasi dalam langgam yang ketat. Dari beberapa referensi itulah penulis coba memotret Amir plus dari sejarah GMKI yang juga sangat terbatas merekam jejak Amir, ia memang tercatat sebagai aktivis CSV op Java (cikal bakal GMKI).
Amir Sjarifuddin memang tidak seperti Bung Karno atau Bung Hatta yang banyak meninggalkan tulisan. Beberapa tulisan pendek pernah ditulis Amir. Antara lain, pertama "Pemberontakan di Spanyol dan Hukum Internasional" dimuat di nomor perdana berkala bulanan Ilmoe dan Masjarakat. Kedua, "Adaptasi Kata-kata Asing dan Konsep-konsep ke Dalam Bahasa Indonesia", makalah yang disampaikan pada Kongres Bahasa Indonesia di Solo pada Juni 1938. Ketiga, "Adat dan Pergerakan", makalah yang disampaikan pada Kongres Rakyat Indonesia pada Desember 1939. Keempat, pada Natal tahun 1942 Badan Persiapan Persatuan Kaum Kristen di Kebun Binatang (sekarang Taman Ismail Marzuki), Amir menulis "Menuju ke Jemaat Indonesia Asli". Praktis memang kita sangat kesulitan memahami pemikiran-pemikiran Amir secara utuh oleh minimnya referensi. Di masa mendatang kondisi itu mudah-mudahan saja menjadi daya tarik tersendiri untuk meneliti dan mengungkap tentang Amir lebih jauh. Harapan ini dapat terwujud bila provokasi picik dan pandangan keliru tentang pemimpin Partai Sosialis yang radikal seperti Amir tidak semakin mewabah.
Konsistensi Nonkooperatif Amir yang terlahir pada 27 April 1907 (pada tesis Pdt Frederiek disebut 27 Mei 1907), merupakan sosok yang secara total membaktikan hidupnya sepanjang 20 tahun (1928-1948) kepada suatu keyakinan bahwa revolusi nasional harus menohok pada sistem imperialisme itu sendiri. Hal itu tampak saat perjuangan melawan kolonialisme Belanda, tak ada kata kompromi dalam bentuk apa pun bagi Amir untuk negara penjajah. Ketika Jepang yang disambut antusias sebagai saudara tua oleh rakyat Indonesia, termasuk Bung Karno dan Hatta, langkah Amir justru sulit diduga banyak kalangan. Amir memanfaatkan Belanda untuk membangun gerakan bawah tanah menghancurkan fasisme Jepang. Bila ditelusuri, dalam hal ini Amir mendasarkan pada teori mengenai analisis terhadap krisis hubungan internasional, dan sistem politik global serta mengenai hubungan antara negeri jajahan dan penjajah yang merupakan bagian integral darinya. Gagasan Amir tidak mendapat sambutan dari sesama aktivis, sebab belum pulihnya kepercayaan mereka terhadap Amir oleh polemik di tahun 1940. Hal paling utama sebenarnya ialah tidak pahamnya mereka akan strategi Amir untuk kemerdekaan sepenuhnya. Kecenderungan saat itu, para aktivis menjalankan strategi berkolaborasi dengan Jepang dengan harapan Jepang memberi kemerdekaan. Sejarah membuktikan prinsip Amir benar, sebab ternyata Jepang menjadi penjajah yang lebih kejam, bukan sebagai saudara tua yang melindungi apalagi memerdekakan.
Nonkooperatif merupakan sikap teguh Amir, berhadap-hadapan dengan problem pokok, itulah yang ditunjukkannya kepada semua pihak. Pada konteks terkini, tidak banyak berpandangan demikian, meski tata kelola Indonesia yang hampir sempurna kehancurannya, pemerintah justru masih sibuk dengan kebijakan-kebijakan "pemadam kebakaran". Bila Amir masih hidup, dengan alat analisisnya mungkin masih dapat menunjukkan problem pokok dan solusinya dengan tepat terhadap sistem penjajahan baru yang merangsek dewasa ini. Sikap nonkooperatif mengalami kebuntuan tatkala Amir berada dalam panggung kekuasaan. Pada situasi yang bergerak cepat, sangat sulit menemukan cara yang bisa mempertemukan antara negara dan revolusi, antara stabilitas dan perubahan, dan antara yang lama dan yang baru. Gambaran itu dapat disepadankan dengan pengalaman kepemimpinan Gus Dur pascareformasi yang kesulitan melakukan perubahan.
Dalam menyusun tentara nasional, Amir terinspirasi dengan "tentara masyarakat" pada pengalaman revolusi Prancis. Segala daya upaya dilakukan Amir untuk memberikan gambaran tentang tentara yang jiwa politiknya "kerakyatan", membuang paham korporatisme, patronase, dan faksionalisme. Namun hal itu mendapat banyak kritikan, akhirnya tidak dapat berkembang sebagai jiwa tentara Indonesia. Bersamaan dengan perjalanan waktu justru ide "dwifungsi" yang telah meresapinya, dan mengangkatnya menjadi golongan "supra-masyarakat". Dinamika itu pula yang menjatuhkan kepemimpinan Amir sebagai Perdana Menteri. Namun lagi-lagi sejarah membuktikan kekalahan dan kesendirian Amir hanya pada saat itu saja, sebab puluhan tahun setelah itu (Reformasi 1998) gemuruh suara rakyat mengumandangkan "tolak dwifungsi", sebagai buah dari konsistensi nonkooperatif.
Pembaru Spiritualitas Perjalanan Amir Sjarifuddin yang dinamik ternyata tidak pada kehidupan politiknya saja. Pengalaman spritualitas Amir juga cukup mengesankan. Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan Islam yang taat, Amir lagi-lagi kontroversial dengan spritualitas baru bagi dirinya. Dia dibaptis di gereja HKBP Kernolong pada 1931oleh Pdt Peter Tambunan. Perkenalan terhadap kekristenan setidaknya dipengaruhi beberapa hal. Pertama, kakek Amir, Soetan Goenoeng Toea adalah penganut Kristen taat. Kedua, saat menempuh pendidikan di Belanda bersama sepupunya Sutan Gunung Mulia ia tinggal bersama penganut Calvinis taat. Ketiga, kedekatannya dengan mahagurunya ketika belajar di Tanah Air. Sudah pasti sangat sulit bagi keluarga dan relasinya memahami pilihan itu. Terlebih masyarakat Indonesia yang belum mampu melihat persoalan seperti itu dengan jernih, bahwa pilihan tersebut merupakan hal personal-transenden.
Tidak ada yang berubah dalam paradigma perlawanan Amir dengan status barunya sebagai Kristen. Justru kemajuan pemikirannya dapat menerobos kebekuan di kalangan Kristen saat itu. Sumbangan signifikan dalam perkembangan kekristenan, antara lain dalam tulisan "menuju ke jemaat yang asli" suatu teologi kontekstual dan merupakan ciri khas pemikiran Amir yang menunjukkan kesetiannya pada perlawanan terhadap penjajahan. Pada berbagai kesempatan Amir menyatakan, "seorang Kristen yang baik dapatlah juga sekaligus menjadi seorang nasionalis yang baik", hal ini suatu petunjuk tentang sintesa keagamaan dan kebangsaan Amir yang utuh. Begitulah Amir, setia dalam spiritualitas perjuangannya melawan penjajahan dengan strategi-taktik yang variatif. Hingga akhir hayat ketika maut datang melalui peluru bangsanya sendiri, ia tetap setia mengumandangkan lagu perjuangan semangat internasional dan Indonesia Raya dengan Injil di tangannya. Sesuatu yang membuktikan kesetiaannya pada prinsip bahwa relasi penjajahan dapat dibedah oleh spirit internasional itu, yang membumi dalam spirit antiimperialisme dan antikolonialisme sebagai wujud nasionalisme. Terpenting dari itu, prinsip tersebut secara utuh termanifestasi pada Injil yang tetap ia pegang erat pada akhir hayat.
Penulis adalah mantan pengurus pusat GMKI
sumber:www.suarapembaruan.com
10 September 2008
Ahimsa
Kata ahimsa terdapat dalam buku-buku suci agama Hindu klasik Upanishad, Yoga Sutra dan Bhagavad Gita. Secara harfiah kata Sanskrit itu berarti ketiadaan gangguan, ketiadaan serangan atau ketiadaan kejahatan. Ahimsa adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari segala perbuatan yang menyakiti siapa pun atau merusak apa pun. Ahimsa adalah nazar asketis bagi orang yang mencari kebenaran dan kekudusan. Setelah sekian abad kata ahimsa dipakai secara terbatas di kalangan agama Hindu, mendadak pada 1920-an kata itu mencuat menjadi populer ke seluruh dunia.
Yang memperkenalkan kata itu adalah Mahatma Gandhi. Kata itu diterjemahkan menjadi nonviolence atau nirkekerasan. Apakah pemahaman Gandhi tentang ahimsa? Gandhi mengambil alih arti klasiknya lalu ia menambah dengan dimensi-dimensi baru. Dalam karangannya di Harijan ia menulis, Ahimsa means love in the sense of Saint Paul, and much more. Artinya: Ahimsa berarti kasih menurut pengertian Rasul Paulus, dan banyak arti lainnya.
Pemikiran Gandhi itu berdampak bukan sekadar terhadap etimologi kata ahimsa, melainkan terhadap filsafat yang berada di baliknya. Gandhi memberikan dimensi pada konsep ahimsa, dari konsep "janganlah kita menyakiti orang lain" menjadi konsep "hendaklah kita mengasihi orang lain". Kalimat negatif diubah menjadi kalimat positif. Gandhi memberikan dimensi ajaran Kristus pada konsep ahimsa tanpa meninggalkan substansinya yang terdapat dalam ajaran Hindu. Itu bukan berarti bahwa Gandhi menyamakan konsep ahimsa menurut agama Hindu dengan konsep kasih menurut agama Kristen. Yang diperbuat Gandhi adalah memperluas arti ahimsa. Gandhi yang menganut agama Hindu memang mempelajari dan menyukai Alkitab Perjanjian Baru, terutama Kitab-kitab Injil dan Surat-surat Paulus.
Yang memperkenalkan kata itu adalah Mahatma Gandhi. Kata itu diterjemahkan menjadi nonviolence atau nirkekerasan. Apakah pemahaman Gandhi tentang ahimsa? Gandhi mengambil alih arti klasiknya lalu ia menambah dengan dimensi-dimensi baru. Dalam karangannya di Harijan ia menulis, Ahimsa means love in the sense of Saint Paul, and much more. Artinya: Ahimsa berarti kasih menurut pengertian Rasul Paulus, dan banyak arti lainnya.
Pemikiran Gandhi itu berdampak bukan sekadar terhadap etimologi kata ahimsa, melainkan terhadap filsafat yang berada di baliknya. Gandhi memberikan dimensi pada konsep ahimsa, dari konsep "janganlah kita menyakiti orang lain" menjadi konsep "hendaklah kita mengasihi orang lain". Kalimat negatif diubah menjadi kalimat positif. Gandhi memberikan dimensi ajaran Kristus pada konsep ahimsa tanpa meninggalkan substansinya yang terdapat dalam ajaran Hindu. Itu bukan berarti bahwa Gandhi menyamakan konsep ahimsa menurut agama Hindu dengan konsep kasih menurut agama Kristen. Yang diperbuat Gandhi adalah memperluas arti ahimsa. Gandhi yang menganut agama Hindu memang mempelajari dan menyukai Alkitab Perjanjian Baru, terutama Kitab-kitab Injil dan Surat-surat Paulus.
Langganan:
Postingan (Atom)