-
Tulis kebiasaan menulis Anda.Jika Anda tidak berkomitmen untuk menuliskan kebiasaan menulis, Anda tidak benar-benar berkomitmen untuk membentuk kebiasaan tersebut. Jika Anda ingin membentuk suatu kebiasaan menulis, Anda harus benar-benar berkomitmen untuk melakukannya. Bukan kalimat "akan saya usahakan", namun "saya benar-benar akan menulis". Dan Anda harus menuliskan komitmen tersebut lalu memasangnya di tempat-tempat yang dapat Anda lihat dengan mudah. Secara spesifik, tulis kebiasaan seperti apa yang akan Anda lakukan (dalam hal ini menulis). Kapan, di mana, dan untuk berapa lama Anda akan melakukannya? Tuliskanlah semua itu.
-
Menulislah setiap hari pada waktu yang sama, dengan pemicu.Akan baik jika Anda memiliki waktu tertentu setiap hari untuk mulai menulis. Saya lebih suka di pagi hari, namun bisa juga saat makan siang, atau sesaat sebelum tidur. Pastikan bahwa waktu itu adalah waktu yang tidak akan dijejali oleh aktivitas lain -- jika Anda sering mendapat panggilan rapat setiap sore, misalnya, jangan menetapkan waktu itu sebagai waktu menulis Anda (kecuali Anda memiliki otoritas untuk tidak mengikuti rapat itu).Yang sama pentingnya dengan memiliki waktu khusus untuk menulis adalah memiliki pemicu. Apakah pemicu itu? Ini adalah suatu peristiwa yang akan mendorong Anda untuk melakukan kebiasaan itu. Misalnya, ketika dulu saya merokok, saya memiliki beberapa pemicu: saya akan merokok saat bangun tidur, stres, setelah rapat, dan sebagainya. Ketika saya ingin mengubah kebiasaan tersebut, saya harus mengubah beberapa pemicu itu, sehingga saya memiliki kebiasaan yang baru untuk menggantikan kebiasaan merokok. Ketika bangun tidur, misalnya, saya akan berolahraga. Untuk menciptakan kebiasaan baru, kita harus berusaha keras menghubungkan kebiasaan tersebut dengan pemicu. Contohnya, katakan saja Anda ingin menulis pada pagi hari -- Anda akan bangun dari tempat tidur, mandi, membuat kopi, dan kemudian mulai menulis. Jadi, membuat kopi adalah pemicu untuk Anda menulis, dan mandi adalah pemicu untuk Anda membuat kopi, dan bangun dari tempat tidur adalah pemicu untuk Anda mandi. Dan karena Anda pasti akan bangun dari tempat tidur setiap hari, jadi Anda tidak akan memiliki masalah menerapkan hal ini. Pilih sebuah pemicu yang Anda tahu akan Anda lakukan setiap hari, dan kemudian menulislah.
-
Berkomitmenlah kepada orang lain.Seperti yang telah dituliskan di atas, adalah penting untuk memiliki komitmen yang kuat guna membentuk kebiasaan menulis. Untuk itu, akan membantu jika komitmen itu sifatnya tidak pribadi. Umumkanlah komitmen Anda kepada banyak orang. Beritahu keluarga, teman-teman, rekan kerja Anda, tulis dalam situs blog Anda, kirimkan ke sebuah forum diskusi online, dan sebagainya. Katakan dengan jelas apa yang akan Anda lakukan, dan berjanjilah untuk melaporkan kepada mereka hal-hal yang telah Anda lakukan (lihat butir nomor 6 di bawah). Hal ini akan memotivasi Anda untuk tetap melakukan kebiasaan menulis.
-
Fokuslah selama 1 bulan.Salah satu kunci untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah fokus. Jika Anda benar-benar fokus untuk membentuk kebiasaan menulis, Anda akan sukses (terutama jika Anda mengombinasikannya dengan beberapa tips lain dalam artikel ini). Jika Anda mencoba untuk menciptakan banyak kebiasaan baru dalam satu waktu sekaligus, fokus Anda akan tersebar. Jangan terjerat pada jebakan yang lazim ada namun menggoda ini. Kerahkan seluruh fokus dan energi Anda untuk membentuk kebiasaan baru dalam menulis.
-
Temukan motivasi Anda.Apa alasan Anda melakukan kebiasan menulis? Apa yang memotivasi Anda untuk duduk dan menulis? Apa yang dapat membuat Anda tetap termotivasi ketika Anda sedang tidak ingin menulis? Mengetahui apa yang menjadi motivasi Anda itu penting -- dan sangat baik jika Anda menuliskannya.
-
Catat dan bertanggungjawablah.Sangat penting mencatat kebiasaan baru Anda. Hal termudah yang dapat Anda lakukan adalah dengan memberikan tanda "X" di kalender Anda setiap kali Anda menulis. Atau Anda bisa juga menyiapkan sebuah lembar kerja untuk mencatat waktu dan tanggal, dengan catatan kecil ketika Anda menulis. Ini dapat menjadi alat untuk membantu Anda melacak apakah tujuan Anda sudah tercapai atau belum. Atau Anda bisa juga membuat catatan dalam blog pribadi; dengan menuliskan tulisan singkat dalam blog Anda setiap kali Anda selesai menulis. Forum diskusi online merupakan cara yang baik pula untuk mencatat apa yang sudah Anda lakukan. Cara apapun yang Anda pakai, lakukanlah itu dengan konsisten dan segera lakukan pencatatan setiap kali Anda selesai menulis. Bagikanlah catatan Anda tersebut kepada orang lain sebagai bentuk pertanggungjawaban Anda kepada orang lain.
-
Tentukan penghargaan diri.Penghargaan adalah motivator yang luar biasa. Sering-seringlah memberi penghargaan kepada diri sendiri ketika Anda baru mulai berusaha membentuk kebiasaan menulis: berikan satu hadiah kecil untuk diri sendiri pada hari pertama Anda menulis, kemudian pada hari yang kedua dan ketiga. Setelah itu, berikan hadiah kepada diri Anda setelah menulis secara rutin selama 1 minggu. Lalu kurangi lagi, Anda akan memberikan hadiah pada diri Anda setelah menulis secara rutin selama 1 bulan. Buat daftar penghargaan sebelum Anda mulai menulis, jadi Anda dapat melihat hadiah apa saja yang dapat Anda terima jika Anda mulai menulis.
-
Disiplin.Semakin konsisten Anda menulis, semakin kuat kebiasaan itu jadinya. Pastikan kebiasaan Anda terhubung kuat dengan pemicu Anda, sehingga setiap kali pemicunya terjadi, Anda akan melakukan kebiasaan Anda. Itulah yang membentuk suatu kebiasaan. Jika pemicunya terjadi, dan kadang Anda tidak melakukan kebiasaan Anda, maka Anda tidak benar-benar membentuk sebuah kebiasaan. Jadi, daripada Anda menyalahkan diri kelak, lebih baik Anda benar-benar disiplin. Karena sekali Anda tidak melakukan kebiasaan itu, kemungkinan Anda akan melakukannya lagi lain waktu. Jika Anda merasa sedang tidak ingin menulis hari ini, katakan pada diri Anda dengan tegas: "Disiplin!"Apa yang akan terjadi jika karena beberapa alasan, Anda tidak melakukan kebiasaan Anda? Jangan lantas menyalahkan diri Anda sendiri. Analisa dan cari tahu mengapa hal itu sampai terjadi dan cari solusinya agar tidak terjadi lagi. Kemudian maju terus. Membentuk suatu kebiaaan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun jika Anda disiplin, Anda akan berhasil.
-
Mencari inspirasi.Motivator terbaik adalah inspirasi. Ketika saya membentuk kebiasaan baru, saya suka membaca pengalaman-pengalaman sukses orang lain. Saya akan membaca buku, majalah, situs, dan blog dengan topik tersebut. Lakukanlah hal yang sama saat menulis -- carilah inspirasi, tetapi jangan membiarkan kegiatan membaca tersebut menghambat Anda untuk menulis.
-
Jadikan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan.Yang terpenting, jika kebiasaan itu tidak menyenangkan, Anda akan sering kehilangan motivasi. Mencoba disiplin memang penting, tapi pada akhirnya, motivasilah yang merupakan faktor pentingnya. Anda tidak dapat memaksa motivasi. Jadi, carilah cara untuk membuat kebiasaan menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bisa dengan memutar musik atau menenggak secangkir kopi atau teh saat Anda menulis. Menulislah dengan ditemani sesuatu yang Anda sukai. (t/Davida)source:http://pelitaku.sabda.org/sepuluh_langkah_untuk_menciptakan_kebiasaan_menulis
kumpulan tulisan dari teman-teman dari beberapa mailingslist. bermanfaat atau saat yang tepat adalah harapan.
05 November 2013
Sepuluh Langkah Untuk Menciptakan Kebiasaan Menulis
22 Maret 2011
Mengenang 104 Tahun Mr Amir Sjarifuddin Sang Pembaru (27 April 1907)
Tidak banyak referensi dapat dijadikan rujukan untuk menelusuri jejak Amir Sjarifuddin. Tentang langkanya referensi itu, Pendeta Frederiek Djara Wellem dalam tesisnya, Mr Amir Syarifuddin tempatnya dalam kekristenan dan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia (STT Jakarta, 1982), mengungkapkan, "dalam karya-karya sejarah Indonesia, nama Amir Syarifuddin tidak banyak disebut. Agaknya tokoh ini dan perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia agak disembunyikan, barangkali karena berhubungan erat dengan 'pemberontakan' PKI di Madiun 18 September 1948". Tesis Pendeta Frederiek itu pada 1984 pernah diterbitkan Pustaka Sinar Harapan, namun terpaksa dihancurkan karena dilarang pemerintah saat itu. Hal serupa juga pernah dialami Majalah Prisma tahun 1982 ketika menerbitkan ringkasan biografi Amir pada hari ulang tahun ke-75.
Buku Amir Sjarifuddin antara Negara dan Revolusi, ditulis Jacques Lecrec (diterbitkan pertama kali oleh Monash Papers onSoutheast, 1993), merupakan buku yang cukup bagus, setidaknya menjadi pelepas dahaga bagi mereka yang membutuhkan informasi tentang Amir. Terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Jaringan Kerja Budaya, Jakarta, 1996. Kelemahannya sebagaimana yang diungkapkan penerbit, buku tersebut lebih tepat disebut sebagai renungan tentang Amir ketimbang tulisan ilmiah yang menyajikan fakta dan interpretasi dalam langgam yang ketat. Dari beberapa referensi itulah penulis coba memotret Amir plus dari sejarah GMKI yang juga sangat terbatas merekam jejak Amir, ia memang tercatat sebagai aktivis CSV op Java (cikal bakal GMKI).
Amir Sjarifuddin memang tidak seperti Bung Karno atau Bung Hatta yang banyak meninggalkan tulisan. Beberapa tulisan pendek pernah ditulis Amir. Antara lain, pertama "Pemberontakan di Spanyol dan Hukum Internasional" dimuat di nomor perdana berkala bulanan Ilmoe dan Masjarakat. Kedua, "Adaptasi Kata-kata Asing dan Konsep-konsep ke Dalam Bahasa Indonesia", makalah yang disampaikan pada Kongres Bahasa Indonesia di Solo pada Juni 1938. Ketiga, "Adat dan Pergerakan", makalah yang disampaikan pada Kongres Rakyat Indonesia pada Desember 1939. Keempat, pada Natal tahun 1942 Badan Persiapan Persatuan Kaum Kristen di Kebun Binatang (sekarang Taman Ismail Marzuki), Amir menulis "Menuju ke Jemaat Indonesia Asli". Praktis memang kita sangat kesulitan memahami pemikiran-pemikiran Amir secara utuh oleh minimnya referensi. Di masa mendatang kondisi itu mudah-mudahan saja menjadi daya tarik tersendiri untuk meneliti dan mengungkap tentang Amir lebih jauh. Harapan ini dapat terwujud bila provokasi picik dan pandangan keliru tentang pemimpin Partai Sosialis yang radikal seperti Amir tidak semakin mewabah.
Konsistensi Nonkooperatif Amir yang terlahir pada 27 April 1907 (pada tesis Pdt Frederiek disebut 27 Mei 1907), merupakan sosok yang secara total membaktikan hidupnya sepanjang 20 tahun (1928-1948) kepada suatu keyakinan bahwa revolusi nasional harus menohok pada sistem imperialisme itu sendiri. Hal itu tampak saat perjuangan melawan kolonialisme Belanda, tak ada kata kompromi dalam bentuk apa pun bagi Amir untuk negara penjajah. Ketika Jepang yang disambut antusias sebagai saudara tua oleh rakyat Indonesia, termasuk Bung Karno dan Hatta, langkah Amir justru sulit diduga banyak kalangan. Amir memanfaatkan Belanda untuk membangun gerakan bawah tanah menghancurkan fasisme Jepang. Bila ditelusuri, dalam hal ini Amir mendasarkan pada teori mengenai analisis terhadap krisis hubungan internasional, dan sistem politik global serta mengenai hubungan antara negeri jajahan dan penjajah yang merupakan bagian integral darinya. Gagasan Amir tidak mendapat sambutan dari sesama aktivis, sebab belum pulihnya kepercayaan mereka terhadap Amir oleh polemik di tahun 1940. Hal paling utama sebenarnya ialah tidak pahamnya mereka akan strategi Amir untuk kemerdekaan sepenuhnya. Kecenderungan saat itu, para aktivis menjalankan strategi berkolaborasi dengan Jepang dengan harapan Jepang memberi kemerdekaan. Sejarah membuktikan prinsip Amir benar, sebab ternyata Jepang menjadi penjajah yang lebih kejam, bukan sebagai saudara tua yang melindungi apalagi memerdekakan.
Nonkooperatif merupakan sikap teguh Amir, berhadap-hadapan dengan problem pokok, itulah yang ditunjukkannya kepada semua pihak. Pada konteks terkini, tidak banyak berpandangan demikian, meski tata kelola Indonesia yang hampir sempurna kehancurannya, pemerintah justru masih sibuk dengan kebijakan-kebijakan "pemadam kebakaran". Bila Amir masih hidup, dengan alat analisisnya mungkin masih dapat menunjukkan problem pokok dan solusinya dengan tepat terhadap sistem penjajahan baru yang merangsek dewasa ini. Sikap nonkooperatif mengalami kebuntuan tatkala Amir berada dalam panggung kekuasaan. Pada situasi yang bergerak cepat, sangat sulit menemukan cara yang bisa mempertemukan antara negara dan revolusi, antara stabilitas dan perubahan, dan antara yang lama dan yang baru. Gambaran itu dapat disepadankan dengan pengalaman kepemimpinan Gus Dur pascareformasi yang kesulitan melakukan perubahan.
Dalam menyusun tentara nasional, Amir terinspirasi dengan "tentara masyarakat" pada pengalaman revolusi Prancis. Segala daya upaya dilakukan Amir untuk memberikan gambaran tentang tentara yang jiwa politiknya "kerakyatan", membuang paham korporatisme, patronase, dan faksionalisme. Namun hal itu mendapat banyak kritikan, akhirnya tidak dapat berkembang sebagai jiwa tentara Indonesia. Bersamaan dengan perjalanan waktu justru ide "dwifungsi" yang telah meresapinya, dan mengangkatnya menjadi golongan "supra-masyarakat". Dinamika itu pula yang menjatuhkan kepemimpinan Amir sebagai Perdana Menteri. Namun lagi-lagi sejarah membuktikan kekalahan dan kesendirian Amir hanya pada saat itu saja, sebab puluhan tahun setelah itu (Reformasi 1998) gemuruh suara rakyat mengumandangkan "tolak dwifungsi", sebagai buah dari konsistensi nonkooperatif.
Pembaru Spiritualitas Perjalanan Amir Sjarifuddin yang dinamik ternyata tidak pada kehidupan politiknya saja. Pengalaman spritualitas Amir juga cukup mengesankan. Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan Islam yang taat, Amir lagi-lagi kontroversial dengan spritualitas baru bagi dirinya. Dia dibaptis di gereja HKBP Kernolong pada 1931oleh Pdt Peter Tambunan. Perkenalan terhadap kekristenan setidaknya dipengaruhi beberapa hal. Pertama, kakek Amir, Soetan Goenoeng Toea adalah penganut Kristen taat. Kedua, saat menempuh pendidikan di Belanda bersama sepupunya Sutan Gunung Mulia ia tinggal bersama penganut Calvinis taat. Ketiga, kedekatannya dengan mahagurunya ketika belajar di Tanah Air. Sudah pasti sangat sulit bagi keluarga dan relasinya memahami pilihan itu. Terlebih masyarakat Indonesia yang belum mampu melihat persoalan seperti itu dengan jernih, bahwa pilihan tersebut merupakan hal personal-transenden.
Tidak ada yang berubah dalam paradigma perlawanan Amir dengan status barunya sebagai Kristen. Justru kemajuan pemikirannya dapat menerobos kebekuan di kalangan Kristen saat itu. Sumbangan signifikan dalam perkembangan kekristenan, antara lain dalam tulisan "menuju ke jemaat yang asli" suatu teologi kontekstual dan merupakan ciri khas pemikiran Amir yang menunjukkan kesetiannya pada perlawanan terhadap penjajahan. Pada berbagai kesempatan Amir menyatakan, "seorang Kristen yang baik dapatlah juga sekaligus menjadi seorang nasionalis yang baik", hal ini suatu petunjuk tentang sintesa keagamaan dan kebangsaan Amir yang utuh. Begitulah Amir, setia dalam spiritualitas perjuangannya melawan penjajahan dengan strategi-taktik yang variatif. Hingga akhir hayat ketika maut datang melalui peluru bangsanya sendiri, ia tetap setia mengumandangkan lagu perjuangan semangat internasional dan Indonesia Raya dengan Injil di tangannya. Sesuatu yang membuktikan kesetiaannya pada prinsip bahwa relasi penjajahan dapat dibedah oleh spirit internasional itu, yang membumi dalam spirit antiimperialisme dan antikolonialisme sebagai wujud nasionalisme. Terpenting dari itu, prinsip tersebut secara utuh termanifestasi pada Injil yang tetap ia pegang erat pada akhir hayat.
Penulis adalah mantan pengurus pusat GMKI
sumber:www.suarapembaruan.com
16 Maret 2011
Hasilkan Fellow IEEE - Dana Penelitian Universitas dan Institusi Negara Jangan pernah bilang "saya sudah cukup berkarya"
Ya betul, komentar anda di bawah ini benar.
Ada banyak instansi termasuk Universitas di Luar Negeri yang bekerjasama dengan IEEE untuk memperoleh (Digital) Library yang terbesar dan terlengkap di dunia, dengan memperoleh harga potongan yang besar. IEEE memiliki dokumen2 dan buku2 para periset dunia yang tidak ada tandingannya.
IEEE mempunyai cabang atau Section di seluruh dunia, bahkan di Cina, Jepang, Eropa Barat dan Rusia sekalipun.
Sayangnya kebijakan liberalisasi yang salah dari Indonesia, menyebabkan Universitas dan sekolah2 harus mencari dananya sendiri, malah mengarah diswastakan. Ini suatu liberalisasi yang keblinger dan tidak pada tempatnya mengikuti penswastaan perusahaan dan usaha pemerintah.
Di negara maju malah pendidikan disubsidi berat mulai dari SD hingga Universitas.
Di AS, yang memberikan subsidi adalah pemerintah Negara Bagiannya.
Bagaimana Universitas bisa unggul dalam riset bila tidak disubsidi pemerintah pusat atau provinsi, dan hanya bergantung pada kerjasama dengan instansi dan perusahaan swasta (kebanyakan asing). Sudah jelas bila kerjasama dengan perusahaan asing seperti Microsoft dsb, akan lebih mementingkan promosi dan produk perusahaan tersebut. Demikian juga kerjasama dengan lembaga pendidikan asing. Sementara dukungan dana dari institusi keuangan baik itu Bank Dunia, ADB, Ford Foundation, Eropa dsb, tentunya sangat terbatas dan ada kepentingan pemilik di belakangnya.
Tidak mungkin kita akan memperoleh hasil riset yang benar-benar sesuai kepentingan nasional dan atau sesuai inovasi asli dari para pakar kita. Padahal pakar-pakar kita dari bumi asli Indonesia banyak yang hebat-hebat dan tidak kalah dengan pakar asing.
Salah satu contohnya kalau mau tahu adalah seorang Indonesia, Prof. Dr.Susanto Rahardja, dari Institute for Infocomm Research, Singapura, http://www.raharja.ac.id/susanto/
Dia meraih tingkat keanggotaan Fellow IEEE oleh karena peluang karier dan penelitiannya yang diberikan Institut ini untuk maju. Peluang tersebut tidak disia-siakan sehingga karya-karyanya melanglang-buana.
Bila Universitas tidak diberi subsidi, bukan hanya untuk biaya mahasiswa (masa depan ahli dan Pemimpin Bangsa), khususnya yang tidak mampu ke LN, tetapi juga untuk riset sebagai tumpuan kemajuan Bangsa masa depan, bagaimana akhli-akhli, Doktor-doktor serta Profesor-profesor kita bisa maju dan membumi? Hasil-hasil riset ini yang akan menjadi dasar pijak pengakuan dunia terhadap pakar, yang disebarkan lewat berbagai majalah riset dan teknologi dunia, seperti majalah2 IEEE, dsb. Dan berdasarkan itu pula maka rekan2 sekerjanya sesama anggota IEEE akan dapat mengusulkan dia meraih peringkat keanggotaan IEEE tertinggi, Fellow.
Mengamati Newsletter IEEE Region 10 (Asia Pasifik), diumumkan para Fellow IEEE 2011 yang baru, nampak kebanyakan dari Universitas, selain dari industri besar negara maju termasuk Singapura.
Coba untuk tahun 2011 yang memperoleh Fellow (bukan jumlah seluruhnya dari tahun2 sebelumnya) adalah dari India (Bengalore 1, Bombay 1, Madras 1. Total 3), China (Beijing 3, Wuhan 1, Total 4); Hongkong (9=sembilan), Japan (Kansai: 1, Sendai 2; Tokyo 11=sebelas, Total 14); Australia (NewSouthWales: 3); NZ (1); Korea (Seoul 6); Singapura (3 orang, termasuk Dr.Susanto Rahardja), Taiwan (10=sepuluh).
Dan sampai kini Indonesia belum memiliki seorang Fellow. Bagaiman dia bisa berprestasi dalam penelitian dan penemuan teknologi bagi umat manusia, kalau tidak ada dana atau tidak ada yang mendukung di dalam negeri?
Nampaknya Indonesia masih sibuk mengurusi soal mengisi perut. Apa betul?
Bukankah ada cukup banyak dana untuk pendidikan, dan mestinya R&D juga merupakan bagian dari pendukung pendidikan di Universitas. Kapan lagi kalau tidak sekarang mengadakan penelitian dengan dana sendiri di Universitas.
You get what you pay. Bukankah berlaku hukum, bila memancing dengan umpan kecil maka dapat ikan kecil, dan memancing dengan umpan besar akan dapat ikan besar?
Kalau seperti sekarang malah tanpa umpan mau dapat ikan. Sulap namanya.
[Atau seperti zaman Orba, penelitiannya ndak kepalang tanggung, langsung untuk kapal terbang, bahkan katanya setiap orang Indonesia cuma harus menyumbang $10 untuk menyelesaikan penelitian dan produksi Nxxxx. Sementara untuk yang ada di depan mata seperti pertanian dan perikanan yang langsung dinikmati rakyat banyak malah diterlantarkan. Ya, ya, kita sering suka langsung hasil segera (instant), ndak mau lama-lama berpayah-payah dikit demi sedikit berpeluh seperti orang Jepang. Akibatnya seperti pengeboran a la Lapindo yang korban dan akibatnya masih berserakan dan ada ibu yang meninggal. Pemilik melepaskan tanggung jawab dan memperjuangkannya sebagai bencana nasioinal, agar ditanggung negara. Dan kalau ada hasil yang bagus langsung berebut nama. Contoh, pertandingan sepak bola yang tinggal memetik kemenangan akhirnya menderita kekalahan, karena kelelahan beraudiensi dan jengkel.]
Kita terus berharap bahwa pemerintah mau bertobat dan mengubah kebijakannya, sehingga Universitas menjadi tempat penggelembengan pakar-pakar teknologi berskala internasional dan pimpinan negara yang membumi bagi Ibu Pertiwi di mana dia dibesarkan, dan bukan terpaksa atau dipaksa hijrah ke dan menguntungkan negara lain.
Kembali lagi untuk peluang dan pentingnya keanggotaan IEEE ini.
Dengan adanya IEEE Indonesia Section kita saling dukung antar-anggota, maka informasi rinci tentang pakar asal Indonesia seperti di atas yang saya lemparkan ke milis, ditambah rincian oleh rekan Arief Hamdani (Vice Chair, asal Telkom), dan rekan Suryadi Liawatimena (Newsletter, dari BINUS) memasukkannya dalam Facebook. Berbagai ulasan sebelumnya didukung oleh pengetahuan yang ditimba dari IEEE.
Dari IEEE kita juga belajar berorganisasi yang tertib, kegiatan dan pelaporan dikontrol dan bahkan diberi insentif keberhasilan, memberikan bantuan untuk penemuan oleh anggota biasa maupun mahasiswa, bantuan untuk kegiatan khusus seperti wanita seperti WIE (Women in Engineering), sementara pelaporan keuangan dikontrol dengan ketat.
Jangan pernah mengatakan "saya sudah tua" atau "sudah cukup sekian (berkarya)", melainkan bertanya terus "apa yang bisa saya lakukan, prestasikan"
[Tahun 2004, setelah pensiun 9 tahun, sambil terus berusaha, saya menambah di luar bisang profesi saya tetapi perting untuk bisnis profesi, yaitu ikut suatu pelatihan akhir pekan "Marketing Strategy" di LA dari seorang ahli pemasaran kelas dunia, Jay Abraham, yang hingga kini saya praktekkan dan tularkan.
Nah, ketika tahun 2008, saya dg isteri dan anak perempuan dan temannya, ikut pelatihan akhir pekan di Jakarta "Pattern of Excellence" dari Adam Khoe, ada contoh yang menantang seorang pebisnis yang bangkrut pada umur 72 tahun, namun dia pantang putus asa dan bangkit kembali sehingga pada pada umur 82 tahun dia berhasil meraih kembali kekayaan dan kejayaannya. Memang kalau kita mau, bisa menjadi luar biasa.]
Salam,
APhD
28 November 2008
Panduan Keberlangsungan Proyek Piranti Lunak
Diterbitkan di: Agustus 10, 2005
Memaparkan gambaran rinci tentang proyek piranti lunak yang sukses dan memberikan rancangan secara detil mengenai pembuatan piranti lunak untuk proyek klien/server skala medium, dimana menggunakan desain dan program berpola baru yang berpusat pada obyek (Object Oriented Design and Programming). Hal tersebut dapat juga diadaptasikan pada proyek yang menggunakan pola tradisional dan komputer mainframe. Akan tetapi desain ini tidak cukup tepat untuk aplikasi komersil dan sistim bisnis, dimana untuk membantu sistim pengamanannya jikalau sedang kritis.
Bagaimana cara agar proyek Anda terus berlangsung?
Sebuah buku yang bagus untuk Manajer proyek piranti lunak yang baru di bidang ini. Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang berpenghasilan bergantung pada proyek pembuatan piranti lunak ini, khususnya mereka yang tidak mempunyai latar belakang formal dalam manajemen pelatihan proyek piranti lunak. Manajer kelas atas, eksekutif, klien, penanam modal, para pemakai piranti lunak, manajer proyek dan pimpinan teknik, sangat tepat membaca buku ini.
Disini Anda akan menemukan panduan dari pembuat buku terkenal CODE COMPLETE and RAPID DEVELOPMENT. Steve McConnell telah menuliskan riset secara detil dan tentang bagaimana cara memenangkan sebuah kesempatan berharga dalam karir Anda, untuk agar bias tercapai tujuan yang tepat, yang ia sebut sebagai “sebuah pendekatan secara spesifik pembuatan piranti lunak yang berjalan dengan baik, pada hampir setiap kesempatan dan proyek manapun”. Sembilan belas bab dalam empat bagian ini menceritakan tentang konsep dan strategi yang Anda perlu kuasai dalam proses pembuatan piranti lunak, termasuk perencanaan, desain, manajemen, jaminan kualitas, pengetesan dan pengarsipan. Bagi para pemula dan para manajer proyek musiman, PANDUAN KEBERLANGSUNGAN PROYEK PIRANTI LUNAK menggambarkan teknik-teknik khusus untuk menciptakan kerangka kerja yang mudah dan dapat dipercaya untuk kesuksesan proyek manajemen.
Jadi, jangan khawatir akan seperangkat teknik proyek manajemen yang sulit dan butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasainya. PANDUAN KEBERLANGSUNGAN PROYEK PIRANTI LUNAK secara langsung menuju ke pusat persoalan untuk membantu kesuksesan proyek Anda. Karena itu, membuat buku ini wajib ada di setiap lemari buku para profesional.
27 November 2008
Internet Communication terms
AAMOF - As A Matter Of Fact
AFAIK - As Far As I Know
AFAIC - As Far As I’m Concerned
AFAICT - As Far As I Can Tell
AFK - Away From Keyboard
ASAP - As Soon As Possible
ASL - Age, Sex, LocationS
BAK - Back At Keyboard
BBL - Be Back Later
BITMT - But In The Meantime
BOT - Back On Topic
BRB - Be Right Back
BTW - By the way
C4N - Ciao For Now
CMIIW - Correct Me If I’m Wrong
CRS - Can’t Remember “Stuff”
CU - See You
CUL(8R) - See You Later
CWOT - Complete Waste Of Time
CYA - See Ya
DIY - Do It Yourself
EOD - End Of Discussion
EZ – Easy
F2F - Face To Face
FAQ - Frequently Asked Questions
FBOW - For Better Or Worse
FOAF - Friend Of A Friend
FOCL - Falling Off Chair Laughing
FWIW - For What It’s Worth
FYA - For Your Amusement
FYI - For Your Information
ga - Go Ahead
GAL - Get A Life
GBTW - Get Back To Work
GFC - Going For Coffee
GFETE - Grinning From Ear To Ear
GMTA - Great minds think alike
GR&D - Grinning, Running & Ducking
GTG - Got To Go
GTGTTBR - Got To Go To The Bathroom
GTRM - Going To Read Mail
HAND - Have A Nice Day
HHOK - Ha Ha Only Kidding
HTH - Hope This Helps
IAC - In Any Case
IAE - In Any Event
IC - I See
IDGI - I Don’t Get It
IMCO - In My Considered Opinion
IMHO - In my humble opinion
IMNSHO - in My Not So Humble Opinion
IMO - In My Opinion
IMPE - In My Personal Experience
IMVHO - In My Very Humble Opinion
IOW - In Other Words
IRL - In Real Life
ISP - Internet Service Provider
IYKWIM - If You Know What I Mean
JIC - Just In Case
J/K - Just kidding
KISS - Keep It Simple Stupid
L8TR - Later
LD - Later dude
LOL - Laughing Out Loud
LTNS - Long Time No See
MorF - Male or Female, or person who asks that question
MTCW - My Two Cents Worth NRN - No Reply Necessary
ONNA - Oh No, Not Again!
OTOH - On The Other Hand
OTTOMH - Off the top of my head
OIC - Oh I See
OTF - On The Floor
OLL - Online Love
PLS - Please
PU - That Stinks!
REHI - Hello Again (re-Hi!)
ROFL - Rolling On Floor Laughing
ROTF - Rolling On The Floor
ROTFL - Rolling On The Floor Laughing
RSN - Real Soon Now
RTDox - Read The Documentation/ Directions
RTFM - Read The Frickin’ Manual
RUOK - Are You OK?
SNAFU - Situation Normal ; All Fouled Up
SO - Significant Other
SOL - Smiling Out Loud (or Sh*t Out of Luck)
TANSTAAFL - There Ain’t No Such Thing As A Free Lunch
TAFN - That’s All For Now
TEOTWAWKI - The End Of The World As We Know It THX - Thanks
TIA - Thanks In Advance
TLK2UL8R - Talk to you later
TMK - To My Knowledge
TOS - Terms Of Service
TPTB - The Powers That Be
TSWC - Tell Someone Who Cares
TTBOMK - To The Best Of My Knowledge
TTFN - Ta-Ta For Now
TTYL(8R) - Talk To You Later
TWIMC - To Whom It May Concern
Txs – Thanks
URL - Web Page Address
w/b - Welcome Back
w/o - Without
WRT - With Regard To
WTG - Way To Go
WU? - What’s Up?
WWW - World Wide Web
WYSIWYG - What You See Is What You Get
Y2K - Year 2000
YGIAGAM - Your Guess Is As Good As Mine
YGWYPF - You Get What You Pay For
YMMV - Your Mileage May Vary
ZZZ - Sleeping
29 Agustus 2008
Tentang 17 Agustus, Bung Karno dan hari depan bangsa
Sebentar lagi Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang ke-63 akan tiba. Sudah sepantasnyalah bahwa kita semua memperingati hari yang bersejarah ini, dengan bermacam-macam cara kita masing-masing, dan juga merenungkan berbagai hal yang berkaitan dengannya. Dalam tulisan yang kali ini, disajikan kepada para pembaca berbagai bahan sebagai sumbangan untuk sama-sama merenungkan apa arti proklamasi 17 Agustus bagi bangsa Indonesia, dan apa perspektifnya untuk kemudian hari. Sudah jelas bahwa kita bisa memandang 17 Agustus dari banyak segi, dan dari sudut pandang yang bermacam-macam. Yang berikut di bawah ini adalah sebagian dari begitu banyaknya dan bermacam-macamnya berbagai pandangan itu.
Seperti yang bisa sama-sama kita saksikan dewasa ini dimana-mana, sebagian terbesar rakyat kita (sekitar 80%) masih belum merasakan hasil kemerdekaan, karena dirundung oleh kemiskinan yang parah dan pengangguran yang meluas sekali. Sebagian terbesar rakyat kita terpaksa menderita karena kecilnya pendapatan untuk hidup sehari-hari (kurang dari 2 US$ sehari), dan sulit untuk mendapat pengobatan kalau sakit. Tetapi, sebaliknya, kita juga bisa sama-sama menyaksikan bahwa segolongan kecil dari lapisan atas atau kalangan elite masyarakat, justru bisa hidup bermewah-mewah secara keterlaluan, dan menumpuk harta haram secara besar-besaran dengan korupsi atau perbuatan-perbuatan lainnya yang tidak halal.
Hal lain yang juga sangat menyedihkan adalah banyaknya kasus korupsi yang mencerminkan kebejatan moral dan kebobrokan iman dari kalangan atas di bidang eksekutif, legislatif, judikatif, dan juga di kalangan parpol-parpol dan agama. Kebejatan moral dan kebobrokan iman yang sudah sangat menjijikkan ini kelihatan jelas sekali kalau kita ingat bahwa Gubernur Bank Indonesia, yang gaji sebulannya lebih dari Rp 100 juta, tetapi toh masih mau „main kotor” dalam kasus uang haram dari dana BI sebesar Rp 100 miliar. Atau, juga jelas sekali dalam kasus „korupsi berjemaah” di kalangan 52 anggota DPR yang umumnya bergaji antara Rp 50 sampai RP 80 juta sebulannya. Korupsi massal di kalangan anggota DPR, yang terdiri dari wakil-wakil parpol yang ikut dalam Pemilu yang lalu adalah puncak dari kemerosotan moral di kalangan „wakil rakyat”.
Separuh umur RI dirusak oleh Orde Baru
Kita semua bisa mencatat bahwa setengah dari umur Republik kita yang 63 tahun ini, yaitu selama 32 tahun, telah dikangkangi - dan dibikin rusak atau bobrok - oleh rejim miiliter Suharto dkk, yang bersekongkol dengan nekolim, terutama AS. Jangka waktu 32 tahun adalah lama sekali bagi RI yang berumur 63 tahun. Dan sekarang ini, banyak orang melihat atau merasakan sendiri betapa hebatnya kerusakan dan atau kebobrokan yang telah dibikin selama 32 tahun oleh rejim Orde Baru. Negara Republik Indonesia sekarang dalam proses kebangkrutan.
Lebih dari 37 juta orang masih hidup dalam kategori miskin, yang masih harus ditambah lebih dari tiga juga korban bermacam bencana. Satu dari sepuluh orang Indonesia hidup tanpa pekerjaan. Mereka yang bekerja sebagai buruh kini harus menghadapi ancaman dari pasar tenaga kerja yang fleksibel. Sistem kontrak dan outsourcing mengancam keamanan kerja dan membuat jutaan orang hidup tanpa kepastian sementara pengusaha menikmati keuntungan berlipat. Di pedesaan, petani yang merupakan separuh penduduk Indonesia memberikan sumbangan besar terhadap perekonomian tapi tidak mendapat perhatian.
Di Indonesia jumlah orang yang bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari Rp 20.000 per hari sudah melebihi separuh, dan masuk ke dalam jajaran penduduk miskin dunia. Sementara 20.000 orang terkaya menguasai lebih dari separuh pendapatan nasional. Akibat dari ketimpangan ini kita saksikan setiap hari. Di Koja, Jakarta Utara, seorang ibu membakar diri bersama dua anaknya, sementara di Jawa Timur, seorang anak gantung diri karena tidak kuat menahan lapar. Dari seminar pemiskinan dan kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung kemarin kita mendapat gambaran nyata bagaimana perempuan dan anak menjadi korban utama ketika negara tidak lagi menjalankan tugasnya, yakni menjamin kesejahteraan rakyat. (Yang ditulis dengan huruf miring adalah kutipan dari Resolusi Konperensi Warisan Otoritarianisme II : Demokrasi dan Tirani Modal Kampus Universitas Indonesia, Depok, 5-7 Agustus 2008)
Pengkhianatan besar terhadap cita-cita Bung Karno
Mengingat itu semua, dalam memperingati 17 Agustus perlu sekali kita ingat kembali jasa-jasa dan cita-cita para perintis kemerdekaan dan para pejuang 45, dan sekaligus juga ingat kepada pengkhianatan Suharto dkk bersama rejim militer Orde Barunya terhadap cita-cita besar Bung Karno dan pemimpin-pemimpin lainnya untuk menjadikan negara Republik Indonesia sebagai negara yang adil dan makmur, yang betul-betul berpedoman Bhinneka Tunggal Ika dan sungguh-sungguh mentrapkan Pancasila.
Kita masing-masing bisa merasakan bahwa Hari Ulangtahun yang ke 63 republik kita ini kita peringati dalam situasi dimana kerusakan moral besar-besaran sedang mengganas, terutama di kalangan atas di bidang eksekutif, legislatif, dan judikatif, termasuk di kalangan parpol dan agama. Kerusakan akhlak dan bejatnya iman ini dapat kita saksikan sehari-hari dalam pers dan tayangan televisi. Kerusakan akhlak dan kebejatan iman ini tercermin dalam merajalelanya korupsi, yang dilakukan oleh lapisan atas (terutama oleh orang-orang GOLKAR serta golongan-golongan lainnya yang sehaluan atau berpandangan sama).
Rusaknya akhlak dan kebejatan iman yang sebagian tercermin dalam banyaknya korupsi ini adalah satu tanda jelas bahwa negara dan bangsa kita sedang menghadapi proses pembusukan yang parah sekali. Karena itu, adalah wajar dan sah-sah saja kalau ada orang yang bertanya-tanya mengapa negara dan bangsa kita sekarang ini menjadi begini rusak? Apa-apa sajakah sebabnya, dan siapa-siapa sajakah yang harus bertanggungjawab atas segala hal yang buruk itu? Bagaimanakah perspektif di kemudian hari? Dan apa sajakah yang harus dilakukan untuk mengadakan perbaikan atau perubahan?
Jelas sekali bahwa banyak sekali atau sebagian terbesar dari masalah-masalah parah atau persoalan-persoalan besar yang kita hadapi sekarang ini pada pokoknya adalah disebabkan oleh sisa-sisa kesalahan atau warisan negatif dari sistem Orde Baru, yang diteruskan oleh berbagai pemerintahan pasca-Suharto yang berganti-ganti. Banyak sekali kebejatan moral besar-besaran yang kita lihat dewasa ini tidak nampak selama berbagai pemerintahan di bawah pimpinan Bung Karno.
Dalam banyak hal, terdapat perbedaan yang besar sekali antara pemerintahan Sukarno dan pemerintahan rejim militer Suharto.
„Di bawah Bendera Revolusi”-nya Bung Karno
Dalam kesempatan memperingati 17 Agustus seperti kali ini, kita ingat bahwa Bung Karno selalu menggunakan kesempatan yang penting ini untuk menyampaikan pidato kenegaraannya, yang pada umumnya berisi pendidikan politik dan mengandung berbagai ajaran revolusioner dan pengabdian kepada perjuangan untuk kepentingan rakyat banyak. Bolehlah dikatakan bahwa jiwa, atau pandangan Bung Karno mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk masyarakat adil dan makmur, untuk persatuan bangsa antara golongan nasionalis, agama dan komunis, untuk nasionalisme kerakyatan, untuk perjuangan terhadap nekolim, semuanya itu ertuang dengan jelas dan bagus sekali dalam pidato-pidatonya ini. Dengan membaca pidato-pidatonya untuk menyambut 17 Agustus, yang dikumpulkan dalam buku „Di bawah Bendera Revolusi” kita bisa melihat betapa besar jiwa perjuangan Bung Karno dan betapa pula jauhnya dan luasnya pandangannya mengenai perjuangan untuk membela kepentingan rakyat banyak. Tidak perlulah kiranya untuk ditegaskan lagi di sini bahwa juga dalam hal ini, ada perbedaan yang jauh sekali antara Bung Karno dan Suharto (dan tokoh-tokoh lainnya).
Kita sama-sama ingat bahwa selama Orde Baru (dan selama beberapa pemerintahan pasca-Suharto) hari Ulangtahun Proklamasi 17 Agustus pada umumnya telah diperingati dengan pemandulan jiwa revolusioner, dengan pembiusan semangat anti-nekolim, dengan „penguburan” segala yang berkaitan dengan jasa-jasa dan gagasan-gagasan besar Bung Karno. Itulah sebabnya, maka dalam jangka yang lama sekali, peringatan 17 Agustus telah dirayakan oleh pendukung-pendukung Suharto terbatas sebagai upacara ritual, yang kosong jiwanya atau enteng-enteng saja isinya, karena kehilangan jiwa asli 17 Agustus, yaitu jiwa perjuangan untuk mengabdi kepada revolusi dan kepentingan rakyat banyak. Orde Baru beserta para pendukung setianya telah membunuh revolusi rakyat Indonesia atau mengubur jiwa revolusionernya.
Kejahatan Suharto adalah pengkhianatan terhadap 17 Agustus
Kali ini, ketika memperingati HUT 17 Agustus yang ke 63 ini, terasa sekali bahwa kita kehilangan seorang pemimpin bangsa, seorang tokoh yang amat tinggi kewibawaannya, seorang yang menjadi panutan, seorang yang sungguh-sungguh membuktikan diri sebagai pengabdi rakyat, seorang yang bisa mempersatukan sebanyak mungkin golongan masyarakat. Sekarang terasa sekali bahwa bangsa kita memerlukan adanya pemimpin yang sosoknya seperti Bung Karno, dan bukannya yang seperti Suharto yang dulunya berasal dari serdadu kolonial Belanda (KNIL) dan yang kemudian menjadi diktator kejam yang luar biasa korupnya. Kejahatan besar Suharto dkk terhadap HAM yang dilakukan sekitar peristiwa 65, dan dibarengi oleh perlakuan tidak manusiawi terhadap para korban Orde Baru (termasuk para tapol) adalah pengkhianatan besar terhadap isi dan jiwa proklamasi 17 Agustus.
Sesudah negara kita dirusak besar-besaran oleh Orde Baru selama separuh dari umur Republik kita, dan digantikan oleh berbagai pemerintahan yang meneruskan kesalahan atau dosa-dosanya, maka terasa sekali kebutuhan yang sangat mendesak akan adanya perubahan-perubahan fundamental dalam kekuasaan politik. Tanpa adanya perubahan atau pergeseran kekuasaan politik, dan menggantikannya dengan kekuasaan politik yang baru dan pimpinan nasional yang baru, serta politik yang baru pula, maka Republik Indonesia akan tetap rusak dan terus bobrok seperti yang telah terjadi selama lebih dari 40 tahun sejak berkuasanya Orde Baru.
Perubahan-perubahan penting di dunia dan di Tiongkok
Pentingnya perubahan atau penggantian kekuasaan politik di Indonesia ini terasa lebih jelas lagi kalau kita ingat bahwa situasi dunia pun sudah mengalami perubahan-perubahan yang tidak kecil. Perang dingin sudah lama selesai dalam bentuknya yang lama, dan Amerika Serikat yang tadinya merupakan kekuatan raksasa yang menguasai dunia sekarang sudah makin loyo, sedangkan India, Tiongkok, dan Vietnam, yang tadinya dimusuhi Amerika Serikat sekarang muncul sebagai kekuatan baru di dunia berkat kemajuan-kemajuan ekonominya yang spektakuler. Kebesaran, dan kemegahan, atau kehebatan yang ditunjukkan oleh penyelenggaraan Olimpiade yang ke-29 di Peking adalah salah satu di antara banyak pertanda atau bukti tentang besarnya perubahan yang terjadi di dunia, terutama di Tiongkok.
Ketika memperingati HUT 17 Agustus yang ke 63, kita pantas prihatin karena adanya kenyataan bahwa kita sudah ketinggalan jauh dari India, Tiongkok dan Vietnam yang sama-sama dilahirkan sesudah akhir Perang Dunia ke-2. Walaupun di negara-negara itu masih terdapat banyak kesulitan dan masalah berat, namun dapat dilihat dengan jelas sekali bahwa mereka telah dapat meraih kemajuan-kemajun besar dalam berbagai bidang. Ini berlainan sama sekali dengan apa yang terjadi di Indonesia, yang sekarang dirundung oleh berbagai krisis (antara lain : krisis moral, politik, ekonomi, sosial, yang bersumber dari persoalan-persoalan parah di bidang eksekutif, legislatif, dan judikatif). Kita saksikan dengan sedih maraknya pertentangan agama yang meruncing karena kefanatikan yang menyesatkan di samping adanya permusuhan yang berdasarkan kesukuan.
Peran angkatan muda untuk perubahan fundamental
Mengingat pengalaman lebih dari 40 tahun sejak tampilnya Orde Baru, sampai sekarang, maka jelaslah bahwa perspektif atau hari kemudian negara dan bangsa kita akan tetap terpuruk seperti sekarang ini dengan masih dikuasainya pemerintahan dan kehidupan politik oleh „orang-orang lama”, yang kebanyakan adalah orang-orang Golkar dan mantan militer (dan para pendukung setia Orde Baru lainnya) , yang pada umumnya sudah terbukti tidak bisa – atau, tidak mau ! – mendatangkan perbaikan bagi bangsa dan negara. Sekarang tambah lebih meyakinkan lagi bagi kita semua bahwa perbaikan fundamental atau perubahan besar demi kepentingan rakyat banyak tidak bisa diharapkan datang dari orang-orang yang berjiwa pro Suharto dan yang bersikap anti ajaran atau anti gagasan besar Bung Karno.
Dengan mengingat itu semua, nyatalah bahwa kekuasaan politik baru, yang dipegang oleh generasi muda bangsa kita adalah satu-satunya harapan bagi terjadinya perubahan fundamental dan besar-besaran yang bisa menyejahterakan kehidupan rakyat dan mempersatukan bangsa di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila, seperti yang dicita-citakan Bung Karno dan para „founding fathers” lainnya. Generasi muda yang berjiwa revolusioner dan berorientasi pro-rakyat dan anti-neoliberalisme akan merupakan pendobrak sistem politik yang busuk yang sudah mengangkangi negara dan merusak bangsa selama lebih dari 40 tahun.
Munculnya generasi baru dalam kekuasaan politik yang baru pula dapat diharapkan bisa menghilangkan beban-beban politik atau ideologis yang menjadi sumber berbagai penyakit dan pertentangan sekitar peristiwa 65. Bersatunya generasi muda di sekitar gagasan-gagasan anti-neoliberalisme atau ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno merupakan sambutan terhadap perkembangan situasi di dunia seperti yang terjadi di banyak negeri Amerika Latin, terutama Venezuela, Bolivia, Argentina, Equador dan Kuba, yang sedang berusaha membangun Sosialisme Abad ke-21.
„Tokoh-tokoh lama” harus minggir atau mundur
Dari sudut pandang yang demikian ini maka nyatalah bahwa adalah tugas strategis seluruh kekuatan demokratik di Indonesia untuk terus-menerus memupuk dan mendorong generasi muda (yang rata-rata masih di bawah 40 tahun) untuk mempersiapkan diri guna mengambil alih peran „ kaum tua” dari kalangan lama, yang sudah terbukti gagal dalam tempo 40 tahun menyejahterakan sebagian terbesar rakyat kita. Sebab, pengalaman selama 40 tahun sejak Orde Baru sudah memberikan pelajaran yang pahit sekali kepada rakyat bahwa dengan pola atau sistem politik lama seperti yang sudah dijalankan oleh Orde Baru beserta berbagai pemerintahan yang berikutnya maka keadaan negara kita tidak mungkin akan menjadi makin baik, melainkan sebaliknya.
Hanya dengan kekuasaan politik yang baru, yang menjalankan politik yang baru pula di berbagai bidang, maka hari depan negara dan bangsa kita akan menjadi lebih baik dari pada yang sekarang, dan yang sudah terbukti gagal selama 40 tahun untuk menyejahterakan kehidupan rakyat banyak. Dan untuk tercapainya perubahan fundamental yang demikian ini para politisi dan para „tokoh-tokoh” lama harus minggir atau mundur, untuk memberikan kesempatan kepada angkatan muda bangsa membenahi kerusakan-kerusakan yang telah terjadi akibat busuknya sistem politik dan buruknya moral selama 40 tahun.
Di tangan angkatan muda yang revolusioner -- artinya yang mendambakan perubahan besar-besaran dan fundamental -- demi kepentingan orang banyaklah terletak hari kemudian yang lebih baik bagi bangsa Indonesia!
Paris, 14 Agustus 2008